Hasil perjalanan seminarku kemarin, banyak jalan miring dan
terjal yang harus kulalui. Aku tidak merasa puas, aku tidak merasa sombong..
tetapi dibalik perjalanan menghadapi hari Kamis, Tanggal 28 Maret 2013,
menyimpan beberapa kenangan yang indah dan menyakitkan hati. Aku baru merasakan
beginilah rasanya menjadi mahasiswa… Tidaklah mudah
menjalani semuanya.
Seminarku kemarin, entah aku harus menyatakannya dalam bentuk
kata sukses atau mengecewakan. Tetapi, aku merasa senang karena aku sudah
melakukannya sekuat tenaga dan sebisa yang kuupayakan. Beberapa hari menjelang
seminar, aku disibukkan mengerjakan draft kertas kerja. Setiap hari bolak-balik
ke pembimbing dan pulang dengan membawa setumpuk kertas dengan penuh coretan
dan lipatan. Beliau selalu mengatakan bahwa tidak ada progress dari kertas kerja yang kutulis. Padahal aku
sudah mencoba semaksimal mungkin menulis kertas kerja sesuai dengan apa yang
beliau minta.
Aku menganggap beliau memang orang yang memiliki paham Idealis yang perfectionist, dan aku
juga mencoba berlari mengejar beliau agar aku dapat mengikuti kearah mana
beliau pergi. Tetapi apapun yang kutulis, bahkan setelah pengorbanan yang telah
kulakukan, mengesampingkan rasa kantuk, mengesampingkan rasa sakit,
mengesampingkan rasa lapar, tetapi tetap saja dimatanya draft yang telah
kutulis, tidak menunjukkan apapun yang bisa menyenangkan hatinya. Hanya satu
kalimat, tidak ada P-R-O-G-R-E-S-S. tulisanku masih tidak sesuai dengan
harapan beliau.
Aku mulai putus asa. Rasa lelah, sakit, mulai menyiksa tubuhku.
Puncak rasa putus asaku terjadi saat kesekian kalinya saat aku kembali dengan
membawa tumpukan kertas kerja yang masih penuh coretan dan lipatan,
dengan kondisi tidak memejamkan mata untuk 1 menit pun. Ditambah pula aku harus
membuat video tutorial untuk prasyarat tampil seminar. Aku merasa sendirian.
Bahkan pacarku, yang seharusnya membantu meringankan bebanku dengan cara
memberi semangat, tetapi dia malah memberikan kata-kata yang sungguh
menyakitkan. Aku semakin labil dan kalut. Dan aku hanya bisa menangis.
Setelah selesai membuat video, yang dimana aku pulang kerumah
jam 10 malam, aku masih harus terus merevisi draft kertas kerja. Rasanya
penderitaan ini tidak berakhir. Dengan kondisi badanku yang sudah lelah dan
memerlukan istirahat, aku tidak bisa melakukannya. Paginya, dengan draft yg
telah kucoba untuk menulis, menurut beliau hasilnya tetap saja… dan aku mulai pasrah… Dan sekarang aku
baru mengerti bahwa beliau bukan hanya sekedar Idealis yang Perfectionist, tetapi juga terlalu terobsesi.
Aku sangat mengingat ucapannya dahulu saat perkuliahan
berlangsung. Beliau bercerita tentang profesornya yang mengatakan, ”Jangan menerapkan pola pikir S3 terhadap anak S1”. Sedangkan, apa yang telah beliau lakukan? Tetap saja
menerapkan pola pikir idealisnya kepada seluruh mahasiswa bimbingannya harus
begini-begini-begini, tanpa mau mengerti mahasiswa bimbingannya mangalami
kesulitan. Beliau selalu melihat hasil akhirnya, tanpa ingin tahu proses
dibaliknya apa yang dilakukan oleh mahasiswa bimbingannya.
Singkatnya, H-1 aku termasuk ke dalam kelompok mahasiswa yang
terancam “gagal tampil”. Kondisiku saat
itu sudah tidak menentu. Tidak tidur selama 2 hari, kertas kerja yang tidak diterima,
skip dinner, skip breakfast, skip lunch. Sepertinya aku pun sudah tidak bisa
membedakan antara rasa lapar dan kenyang. Aku diberikan waktu hingga jam 1
siang untuk memperbaiki kertas kerja dan jam 1 itulah keputusan akan dibuat,
apakah aku akan tetap tampil atau cancel. Dan setelah melewati jam 1 itu,
setelah aku melakukan semaksimal mungkin apa yang bisa kulakukan. Akhirnya
pembimbingku pasrah bahwa aku tidak bisa meraih standar yang ditentukan oleh
beliau dan membiarkanku tampil keesokan harinya, dan waktu saat itu menunjukkan
jam 15.30.
Dengan kondisi belum belanja, belum menyiapkan draft 3 rangkap
yang memerlukan tanda tangan pembimbing, belum menyelesaikan video, aku mulai
bingung apa yang harus kulakukan.
Hari ini hari seminarku. Dengan kondisi tidak tidur lagi,
aku menyiapkan seminarku. Setelah persentasi, ada penilaian corner display,
dimana produk yang kutampilkan dinilai. Aku melihat beliau seperti cukup terpana
dengan produkku. Tetapi dia tidak mengemukakannya. Inilah produk-produk seminarku:





Beliau, pembimbingku rasanya ingin semakin menjatuhkanku dan
mempermalukanku dengan bertanya pada dosen makanan oriental -yang rasanya
sengaja dihadirkan untuk menguji teori orientalku-, “Bu, memangnya boleh ya bakpao dibentuk-bentuk macam-macam
seperti ini?”. Aku semakin berdegup kencang menantikan
jawaban dosen makanan orientalku. Dosen orientalku pun menjawab, “ tentu saja boleh. Walaupun awalnya hanya berbentuk bulat,
tetapi seiring perkembangan, sekarang bentuk bakpao sudah bermacam-macam. Contohnya
ya yang ada di display ini, cantik-cantik bentuknya”.
Aku pun tersenyum… dalam hati aku
berkata, “terima kasih ibuuuuu sudah membelaku… terima kasih sudah memuji, terima kasih sudah datang, terima
kasih-terima kasih-terima kasih……”.
Ya, aku sudah mencoba maksimal dengan performanceku, dengan hati
yang sudah mempersiapkan menerima hujatan kritikan-kritikan tajam yang tiada
henti, dan tidak dibela oleh pembimbing.
Walaupun begitu, aku masih bingung, apa arti dari perkataannya
ini? Beliau mengatakan, “Walaupun produknya bagus, tetapi apabila
kertas kerjanya mengecewakan, itu sama saja tidak maksimal.”dan“Coba tolong hangatkan masing-masing 1
produk, kemudian tata di piring, wrapping dan antarkan ke ruangan Dekan. Bilang
ini dari kelas TA, dari tepung tempe.”Apa beliau puas
dengan produk yang kutampilkan, sehingga hanya produkku yang diberikan kepada
Pak Dekan? Hanya beliau yang tahu. Aku hanya bisa tertawa terbahak-bahak
mendengar pernyataan tersebut, yang secara tidak langsung beliau mengatakan
bahwa produk yang kutampilkan bagus.

