Saturday, March 30, 2013

그 여자의 마음


Hasil perjalanan seminarku kemarin, banyak jalan miring dan terjal yang harus kulalui. Aku tidak merasa puas, aku tidak merasa sombong.. tetapi dibalik perjalanan menghadapi hari Kamis, Tanggal 28 Maret 2013, menyimpan beberapa kenangan yang indah dan menyakitkan hati. Aku baru merasakan beginilah rasanya menjadi mahasiswa Tidaklah mudah menjalani semuanya.

Seminarku kemarin, entah aku harus menyatakannya dalam bentuk kata sukses atau mengecewakan. Tetapi, aku merasa senang karena aku sudah melakukannya sekuat tenaga dan sebisa yang kuupayakan. Beberapa hari menjelang seminar, aku disibukkan mengerjakan draft kertas kerja. Setiap hari bolak-balik ke pembimbing dan pulang dengan membawa setumpuk kertas dengan penuh coretan dan lipatan. Beliau selalu mengatakan bahwa tidak ada progress dari kertas kerja yang kutulis. Padahal aku sudah mencoba semaksimal mungkin menulis kertas kerja sesuai dengan apa yang beliau minta.

Aku menganggap beliau memang orang yang memiliki paham Idealis yang perfectionist, dan aku juga mencoba berlari mengejar beliau agar aku dapat mengikuti kearah mana beliau pergi. Tetapi apapun yang kutulis, bahkan setelah pengorbanan yang telah kulakukan, mengesampingkan rasa kantuk, mengesampingkan rasa sakit, mengesampingkan rasa lapar, tetapi tetap saja dimatanya draft yang telah kutulis, tidak menunjukkan apapun yang bisa menyenangkan hatinya. Hanya satu kalimat, tidak ada P-R-O-G-R-E-S-S. tulisanku masih tidak sesuai dengan harapan beliau.

Aku mulai putus asa. Rasa lelah, sakit, mulai menyiksa tubuhku. Puncak rasa putus asaku terjadi saat kesekian kalinya saat aku kembali dengan membawa tumpukan kertas kerja yang masih penuh coretan dan lipatan, dengan kondisi tidak memejamkan mata untuk 1 menit pun. Ditambah pula aku harus membuat video tutorial untuk prasyarat tampil seminar. Aku merasa sendirian. Bahkan pacarku, yang seharusnya membantu meringankan bebanku dengan cara memberi semangat, tetapi dia malah memberikan kata-kata yang sungguh menyakitkan. Aku semakin labil dan kalut. Dan aku hanya bisa menangis.

Setelah selesai membuat video, yang dimana aku pulang kerumah jam 10 malam, aku masih harus terus merevisi draft kertas kerja. Rasanya penderitaan ini tidak berakhir. Dengan kondisi badanku yang sudah lelah dan memerlukan istirahat, aku tidak bisa melakukannya. Paginya, dengan draft yg telah kucoba untuk menulis, menurut beliau hasilnya tetap saja dan aku mulai pasrah Dan sekarang aku baru mengerti bahwa beliau bukan hanya sekedar Idealis yang Perfectionist, tetapi juga terlalu terobsesi.

Aku sangat mengingat ucapannya dahulu saat perkuliahan berlangsung. Beliau bercerita tentang profesornya yang mengatakan, Jangan menerapkan pola pikir S3 terhadap anak S1. Sedangkan, apa yang telah beliau lakukan? Tetap saja menerapkan pola pikir idealisnya kepada seluruh mahasiswa bimbingannya harus begini-begini-begini, tanpa mau mengerti mahasiswa bimbingannya mangalami kesulitan. Beliau selalu melihat hasil akhirnya, tanpa ingin tahu proses dibaliknya apa yang dilakukan oleh mahasiswa bimbingannya.

Singkatnya, H-1 aku termasuk ke dalam kelompok mahasiswa yang terancam gagal tampil. Kondisiku saat itu sudah tidak menentu. Tidak tidur selama 2 hari, kertas kerja yang tidak diterima, skip dinner, skip breakfast, skip lunch. Sepertinya aku pun sudah tidak bisa membedakan antara rasa lapar dan kenyang. Aku diberikan waktu hingga jam 1 siang untuk memperbaiki kertas kerja dan jam 1 itulah keputusan akan dibuat, apakah aku akan tetap tampil atau cancel. Dan setelah melewati jam 1 itu, setelah aku melakukan semaksimal mungkin apa yang bisa kulakukan. Akhirnya pembimbingku pasrah bahwa aku tidak bisa meraih standar yang ditentukan oleh beliau dan membiarkanku tampil keesokan harinya, dan waktu saat itu menunjukkan jam 15.30.

Dengan kondisi belum belanja, belum menyiapkan draft 3 rangkap yang memerlukan tanda tangan pembimbing, belum menyelesaikan video, aku mulai bingung apa yang harus kulakukan.

Hari ini hari seminarku. Dengan kondisi tidak tidur lagi, aku menyiapkan seminarku. Setelah persentasi, ada penilaian corner display, dimana produk yang kutampilkan dinilai. Aku melihat beliau seperti cukup terpana dengan produkku. Tetapi dia tidak mengemukakannya. Inilah produk-produk seminarku:
SAM_2810.JPG                  SAM_2815.JPG

SAM_2816.JPG                  SAM_2818.JPG

SAM_2819.JPG                  SAM_2821.JPG

SAM_2824.JPG                  SAM_2826.JPG

SAM_2827.JPG                  SAM_2829.JPG

Beliau, pembimbingku rasanya ingin semakin menjatuhkanku dan mempermalukanku dengan bertanya pada dosen makanan oriental -yang rasanya sengaja dihadirkan untuk menguji teori orientalku-, Bu, memangnya boleh ya bakpao dibentuk-bentuk macam-macam seperti ini?. Aku semakin berdegup kencang menantikan jawaban dosen makanan orientalku. Dosen orientalku pun menjawab, tentu saja boleh. Walaupun awalnya hanya berbentuk bulat, tetapi seiring perkembangan, sekarang bentuk bakpao sudah bermacam-macam. Contohnya ya yang ada di display ini, cantik-cantik bentuknya.

Aku pun tersenyum dalam hati aku berkata, terima kasih ibuuuuu sudah membelaku terima kasih sudah memuji, terima kasih sudah datang, terima kasih-terima kasih-terima kasih……”.

Ya, aku sudah mencoba maksimal dengan performanceku, dengan hati yang sudah mempersiapkan menerima hujatan kritikan-kritikan tajam yang tiada henti, dan tidak dibela oleh pembimbing.

Benar saja, setelah corner display dinilai, partisipan mengomentari habis seluruh kertas kerja dan tampilan persentasiku. Pembimbingku menambahkan komentar-komentarnya yang semakin menjatuhkanku. Dan benar saja apa yang kuduga, beliau tidak membelaku. Beliau hanya bicara, inilah akibatnya jika terlalu focus pada produk, membuat draft kertas kerja secara sim salabim, mendadak selama seminggu mengejar pembimbing untuk bimbingan, blablablabla…”. Ya, aku hanya bisa menerimanya.

Walaupun begitu, aku masih bingung, apa arti dari perkataannya ini? Beliau mengatakan, Walaupun produknya bagus, tetapi apabila kertas kerjanya mengecewakan, itu sama saja tidak maksimal.danCoba tolong hangatkan masing-masing 1 produk, kemudian tata di piring, wrapping dan antarkan ke ruangan Dekan. Bilang ini dari kelas TA, dari tepung tempe.Apa beliau puas dengan produk yang kutampilkan, sehingga hanya produkku yang diberikan kepada Pak Dekan? Hanya beliau yang tahu. Aku hanya bisa tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan tersebut, yang secara tidak langsung beliau mengatakan bahwa produk yang kutampilkan bagus.